Rabu, 30 Januari 2013

bagaimana si konsep pendidikan seumur hidup itu?

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Disusun Oleh :

Muhammad Shidiq Nurcahyo
Pendidikan adalah lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang amat kompherensif, yakni pendidikan kemampuan mental, pikir (rasio, intelek) kepribadian manusia seutuhnya. Untuk  membina kepribadian demikian jelas memerlukan rentangan waktu yang relatif panjang; bahkan berlangsung seumur hidup.

A.    Konsep pendidikan seumur hidup.
Konsepsi pendidikan seumur hidup (life long education) mulai dimasyarakatkan melalui kebijaksanaan negara (ketetapan MPR No.IV/MPR/1973 jo) ketetapan MPR No.IV/MPR/1978, tentang GBHN). Yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional (pembangunan bangsa dan watak bangsa) antara lain :
1.      Arah pembangunan jangka panjang.
a.       Pembangunan nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam bab IV bagian pendidikan GBHN menetapkan :
“d. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan    
      rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung   
      jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.

Berdsarkan ketentuan mendasar ini, maka kebijaksanaan negara menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional sebagai berikut :
1.      Pembangunan Bangsa dan watak Bangsa dimulai dengan membangun subyek manusia indonesia seutuhnya, sebagai perwujudan manusia pancasila.
2.      Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya secara khusus merupakan tanggung jawab lembaga dan usaha pendidikan nasional untuk mewujudkan melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Asas pendidikan seumur hidup bertitik tolak atas keyakinan, bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup baik di dalam maupun diluar sekolah.
            Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam diktum ini cukup mendasar dan luas, yakni meliputi asas-asas :
1.      Asas pendidikan seumur hidup ; berlangsung seumur hidup, sehingga peranan subjek manusia untuk mendidik dan mengembangkan diri sendiri secara wajar, merupakan kewajiban kodrati manusia.
2.      Lembaga pelaksana dan wahana pendidikan meliputi :
a.       Dalam lingkungan rumah tangga (keluarga), sebagai unit masyarakat pertama dan utama.
b.      Dalam lingkungan sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal.
c.       Dalam lingkungan masyarakat sebagai lembaga dan lingkungan pendidikan non formal, sebagai wujud kehidupan yang wajar.
3.      Lembaga penanggung jawab pendidikan mencakup kewajiban dan kerjasama ketiga lembaga yang wajar dalam kehidupan, yaitu :
a.       Lembaga keluarga (orang tua)
b.      Lembaga sekolah (lembaga pendidikan formal)
c.       Lembaga masyarakat sebagai keseluruhan tata kehidupan dalam negara baik perseorangan maupun kolektif.

Ketiga lembaga atau komponen penanggung jawab pendidikan ini disebut oleh Dr.Ki Hajar Dewantara sebagai tri pusat pendidikan. Konsepsi pendidikan manusia indonesia seutuhnya dan seumur hidup ini merupakan orientasi baru yang mendasar. Ini berarti kebijaksanaan pendidikan nasional kita telah tidak berorientasi kepada sistem dan teori pendidikan Eropa kontinental yang diajarkan oleh Prof.Dr.M.D.Langevell yang mengajarkan adanya batas umur dan batas waktu pendidikan.
Adapun tujuan untuk pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ialah sebagai berikut :
1.      Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek dan pembawaannya seoptimal mungkin.
2.      Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis, maka wajar berlangsung selama manusia hidup.1

Kepribadian manusia ialah suatu perwujudan keseluruhan segi manusiawinya yang unik, lahir batin dan dalam antar hubungannnya dengan kehidupan sosial dan individu nya, dengan kata lain, istilah kepribadian dapat mengandung makna (diberi predikat) baik, ideal, ataupun buruk, jahat, dan sebagainya.
Membahas pendidikan manusia seutuhnya, sebenarnya adalah menganalisa secara konsepsional (teoritis dan praktis) apa dan bagaimana perwujudan manusia seutuhnya itu. Konsepsi tradisional, seutuhnya (kebulatan) dimaksud ialah kebulatan atau integritas antara aspek jasmaniah dengan rohaniah, antara akal dengan keterampilan.
Manusia seutuhnya sebagai satu konsepsi modern, perlu kita analisa menurut pandangan (berdasarkan sistem nilai dan psikologi) sosio budaya Indonesia. Berdasarkan pikiran demikian dapat diuraikan konsepsi manusia seutuhnya secara mendasar, yakni mencakup pengertian :
1.      Konsepsi keutuhan potensi subjek manusia sebagai subyek yang berkembang.
Kepribadian manusia lahir batin ialah satu kebulatan yang utuh antara potensi-potensi hereditas (bawaan) dengan faktor-faktor lingkungan (pendidikan, tata nilai dan antar hubungan). Potensi potensi subyek manusia antara universal mencakup tujuh potensi :
a.       Potensi jasmaniah : fisik, badan dan pancaindera yang sehat (normal);
b.      Potensi pikir (akal, rasio, inteligensi, intelek).
c.       Potensi rasa (perasaan dan emosi) baik perasaan etis moral maupun perasaan estesis.
d.      Potensi karsa (kehendak, kemauan, keinginan, hasrat atau kecenderungan-kecenderungan, nafsu termasuk prakarsa)
e.       Potensi cipta (daya cipta, kreatifitas, fantasi, khayal dan imajinasi)
f.       Potensi karya (kemampuan menghasilkan, kerja, amal, sebagai tindak lanjut dari a – e atau tindakan dan lakon manusia).
g.      Potensi budi nurani (kesadaran budi, hati nurani, kata hati, consciencia, gewetan atau gewessen, yang bersifat super rasional)

2.      Konsepsi keutuhan wawancara (orientasi) manusia sebagai subyek yang sadar nilai.
Manusia sebagai subyek nilai ialah pribadi yang menjunjung nilai, artinya menghayati, meyakini dan mengamalkan sistem nilai tertentu, baik secara sosial (kemasyarakatan dan kenegaraan) maupun secara pribadi (individual).
Manusia bersikap, berpikir, bertindak dan bertingkah laku dipengaruhi oleh wawasan atau orientasinya terhadap kehidupan dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Wasan mencakup :
a.       Wawasan dunia dan akhirat, yaitu manusia yakin bahwakehidupan dunia akan berakhir dengan kematian dan pasti manusia mengalami kehidupan di akhirat.
b.      Wawasan individualitas dan sosial, secara berkeseimbangan. Kecenderungan ego yang berhadapan dengan realitas sosial mendorong manusia untuk dapat hidup harmonis.
c.       Wawasan jamaniah dan rohaniah, yaitu kesadaran bahwa pribadi kita mempunyai kebutuhan jasmaniah seperti kesehatan, makanan yang bergizi, olahraga, rekreasi, istirahat, pakaian dan sebagainya, juga kesadaran adanya kebutuhan rohaniah seperti menghayati nilai-nilai budaya, ilmu pengetahuan, kesenian, sastra, filsafat dan nilai keagamaan.
d.      Wawasan masa lampau dan masa depan, yaitu : kesadaran dimensi kesejahteraan, masa lampau bangsa yang jaya dan penjajahan yang menimbulkan penderitaan, kebodohan dan kemiskinan, semua keadaan ini memberikan kesadaran cinta bangsa dan kemerdekaan, motivasi berjuang demi cita-cita nasional, kesetiaan kepada bangsa dan sebagainya.

A.    DASAR PEMIKIRAN.

Cukup banyak dasar-dasar pemikiran yang menyatakan bahwa long left education sangat penting. Dasar-dasar pemikiran tersebut ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Tinjauan Ideologis.
Pendidikan seumur hidup atau long left education akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khusunya hak untuk mendapatkan hak pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).
2.      Tinjauan Ekonomis
Pendidikan merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkinkan seseorang untuk :
a.       Meningkatkan produktivitasnya.
b.      Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya.
c.       Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan.
d.      Memiliki motivasi dan mengasuh dan mendidika anak-anaknya secara tepat sehingga peranan pendidikan skeluarga menjadi sangat penting dan besar  artinya.
3.      Tinjauan sosiologis.
Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah, dan atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup kepada orang tua akan merupakan solusi dari masalah tersebut. Segi-segi sosio-budaya bangsa mencakup :
1)      Tata-nilai warisan budaya bangsa yang menjadi filsafat hidup rakyatnya seperti nilai ketuhanan, kekeluargaan, musyawarah, mufakat, gotong royong dan tenggang rasa (tepaselira).
2)      Nilai-nilai filsafat negarany, yakni pancasila.
3)      Nilai-nilai budaya dan tradisi bangsanya seperti bahasa nasional,adat istiadat.
4.      Tinjauan filosofis.
Bahwa sesungguhnya secara filosofis (filsafat manusia) hakikat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integral segi-segi/potensi-potensi (essensia), yaitu:
1)      Manusia sebagai makhluk pribadi (individual being).
2)      Manusia sebagai makhluk sosial (social being).
3)      Manusia sebagai makhluk susila (moral being).
Ketiga essensia ini merupakan potensi-potensi dan kesadaran yang integral (bulat dan utuh). Artinya bagaimana individu itu merealisasikan potensi-potensi tersebut secara optimal dan berkeseimbangan, itulah wujud kepribadianya.
Negara-negara demokrasi menginginkan seluruh rakyatnya menyadari pentingnya hak memilih dan memahami fungsi pemerintah, DPR, DPD, dan sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang. Hal ini menjadi tugas pendidikan seumur hidup.

5.      Tinjauan Teknologis
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia dilanda ekplosi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang, tidak terkecuali para pendidik, sarjana, pemimpin, dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya, seperti apa yang terjadi di Negara-negara maju. Bila hal ini tidak dilakukan, maka kita akan senantiasa tertinggal sebab bagaimanapun orang tidak bisa menutp diri terhadap segala kemajuan yang melandanya.
6.      Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
Bagaimanapun diakui bahwa perkembangan iptek yang sangat pesat punya dampak dan pengaruh yang sangat besar terhadap berbagai konsep, teknik, metode pendidikan. Disamping itu perkembangan tersebut juga semakin luas, dalam, dan kompleks, yang menyebabkan ilmu pengetahuan tidak mungkin lagi di ajarkan seluruhnya kepada anak didik di sekolah. Oleh sebab itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar menanamkan cara motivasi yang kuatdalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan skill kepada anak didiknya secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenaan dengan itulah, perlu diciptakan satu kondisi yang merupakan aplikasi asas pendidikan seumur hidup atau life long education. Dalam kerangka ini, pendidikan pada dasarnya dipandang sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan personal sepanjang hidup, dalam istilah yang lebih luas yaitu development. Koseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.
 
B.     IMPLIKASI KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP PADA PROGRAM PENDIDIKAN.

Implikasi disini diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut (follow up) suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Penerapan asas pendidikan seumur hidup pada isi program pendidikan dan sasaran pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas dan bervariasi. Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh ananda W.P Guruge dalam bukunya Toward Better Educational Management, dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori berikut.6

1.      Pendidikan Baca Tulis Fungsional.
Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup karena relevansinya dengan kondisi yang ada pada negara-negara berkembang dengan alasan masih banyaknya penduduk yang buta huruf, melainkan juga sangat penting ditinjau dari implementasinya. Bahkan di negara yang sudah maju sekalipun di mana radio, film, tv, komputer sampai internet telah menantang ketergantungan orang akan bahan-bahan bacaan, namun membaca masih merupakan hal yang paling murah dan praktis untuk mendapatkan dan menyebarkan pengetahuan.
Meskipun cukup sulit namun membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh iptek terhadap kehidupan masyarakat misalnya petani, justru disebabkan oleh pengetahuan-pengetahuan baru dalam diri mereka. Pengetahuan baru ini dapat melalui bahan bacaan utamanya.
Oleh sebab itu, realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal yaitu :
a.       Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3 M) yang fungsional bagi anak didik.
b.      Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.

2.  Pendidikan kejuruan
Dengan majunya teknologi dan industri maka pendidikan kejuruan itu tidak boleh dipandang sekali jadi dan selesai. Program pendidikan yang bersifat demikian dan para lulusan sekolah menjadi tenaga terampil dan produktif harus terus menerus menyesuaikan kemajuan teknologi mutakhir.
3. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengaruhnya telah menyusul dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Barang-barang elektronik telah menampilkan alat-alat dapur yang tradisional bagi kalangan ibu rumah tangga. kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menuntut pendidikan yang berlangsung secara kontinue. Hal ini agar pendidikan seumur hidup merupakan konsekuensi yang penting untuk mengikuti perubahan sosial dan pembangunan.
4. pendidikan kewarga negaraan dan kedewasaan politik.
Dalam pemerintahan dan masyarakat yang demokratis maka kedewasaan warga negara dan para pemimpinnya dalam kehidupan negara itu sangat penting. Untuk itu pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik merupakan bagian yang sangat penting dari seumur hidup.
5. pendidikan profisional.
Sebagai realisasi pendidkan seumur hidup, dalam tiap-tiap profesi hendaknya telah tercipta built in mechanism

Kesimpulan
Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa - peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. proses pendidikan seumur hidup berlangsung secara kontinue, dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal, proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakanya.
            Penerapan cara berfikir menurut azas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik bagaimana caranya belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motifator, stimulator dan penunjuk jalan anak didik dalam hal belajar, sekolah adalah pusat kegiatan belajar masyarakat sekitar. Sehingga dalam rangka pandangan mengenai pandidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial merupakan anak didik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar